#ngajialfiyah #alfiyahibnumalik
Pada awal nazam bab mukadimah (pendahuluan), beliau menggunakan lafal dari fiil madhi, yaitu fiil (kata kerja) yang di dalam pelaksanaannya terkandung zaman madhi (masa yang sudah lewat/terjadi). Ini adalah hal yang tidak lazim, di mana musanif-musanif (para pengarang) kitab lain dalam mengawali penyusunan kitabnya, mereka lebih sering dan cenderung menggunakan lafal dari fiil mudhari’ yang di dalamnya terkandung zaman hal (masa yang sedang terjadi/dilakukan) atau zaman istiqbal (masa yang akan dilakukan).

Lalu apa maksud beliau (Imam Ibnu Malik) mengawali nazam bait Alfiyyah dengan fiil madhi

(قال محمد هو ابن مالك#……

“Muhammad yakni putra Malik telah berkata”

Inilah keunikan dari beribu keunikan atau mungkin malah jutaan keunikan yang ada pada maha karya Alfiyah Ibnu Malik. Pada halaman pertama, kita langsung disuguhi pemandangan yang berbeda dari kitab yang lain, yang mungkin bagi sebagian dari kita akan dibuatnya berpikir dan mengangan-angannya. Ini menunjukkan dan bisa menjadi tolak ukur dari betapa tingginya kadar intelektualitas dan kecerdasan beliau, di mana pada saat beliau menyusun dan menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik, 1000 nazam (bait) yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau. Sehingga beliau tinggal menulis dan menyusun saja sesuai apa yang telah terekam dalam memorinya. Hal yang sangat langka dilakukan oleh musanif lain dalam menyusun sebuah karya.

Dikisahkan ketika Ibnu Malik menulis nadham dalam Alfiyah dan sampailah pada nadham :
فائقة ألفية ابن معطي
“(Kitab Alfiyah yang aku tulis ini) mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi”

Setelah menulis penggalan nadham tersebut beliau tak bisa lagi melanjutkan menulis nadhamnya, sehingga pada suatu malam beliau mimpi bertemu dengan seseorang : Orang itu bertanya pada beliau :
“Aku dengar kamu mengarang kitab Alfiyah dalam ilmu nahwu” Beliau menjawab : “Iya benar”. Orang itu bertanya lagi : “Sampai pada nadham mana engkau menulisnya?”
Ibnu Malik menjawab : “Sampai pada ‘fa’iqatan….” “Apa yang menyebabkanmu tidak menyempurnakannya?” tanya orang itu. Beliau menjawab : “Sudah beberapa hari aku tidak bisa melanjutkan menulis nadham”. Orang itu berkata lagi : “Apa kamu ingin menyempurnakannya?” “Tentu” jawab Ibnu Malik. Orang itu berkata : “Orang yang masih hidup bisa saja mengalahkan seribu orang yang sudah mati”.Terperangah dengan perkataan itu, Ibnu Malik bertanya : “Apakah anda Ibnu Mu’thi?” “Betul” jawab orang itu. Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Begitu pagi harinya, jatuhlah lembaran tersebut, maka setelah itu beliau menambahkan kalimat pujian pada Imam Ibnu Mu’thi dalam nadhamnya sebagai rasa penyesalan dan penghormatan pada beliau, nadham yang beliau tambahkan :
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
“Beliau (Ibnu Mu’thi) lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah”
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
“Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat..”
________________________________________________________________
NAMA KITAB: AL-IHKAM
ISI: MENJELASKAN BAIT-BAIT ALFIYAH IBNU MALIK
PENERBIT: PONDOK PESANTREN MAMBAUL ULUM BATA-BATA PAMEKASAN
INFO PEMESANAN: 0853 3135 3108

Mari Ngaji

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *